Stigma Jadi Tantangan Dalam Penanganan Obesitas

Obesitas merupakan kondisi kompleks dengan implikasi sosial dan psikologis serius yang dihadapi oleh semua kelompok umur dan kelompok sosial ekonomi dan dipandang sebagai ancaman baik di negara maju maupun berkembang.

Upaya harus ditingkatkan, secara nasional dan global, untuk mencegah kelebihan berat badan dan obesitas pada anak dan keluarganya untuk mengurangi kesenjangan kesehatan dan ekonomi, memperhatikan siklus kebidanan dan meningkatkan kualitas hidup.

“Untuk itu penting menjadikan obesitas sebagai prioritas kesehatan nasional. Untuk itu perlu peran serta semua pihak,” kata Presiden HISOBI Dr. Dicky Livinos Thabari, Sp.PD-Kemed, Ph.D. Selama webinar tentang topik obesitas, itu bukan pertanyaan yang tidak pantas baru-baru ini.

Obesitas telah menjadi epidemi global, kata Dickey.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kelebihan berat badan dan obesitas sebagai akumulasi lemak yang tidak normal atau berlebihan yang dapat berbahaya bagi kesehatan.

Stigma obesitas juga menghadirkan tantangan tersendiri dalam menangani obesitas.

“Stigma berat badan mencakup sikap dan perilaku negatif yang ditujukan kepada seseorang dalam kaitannya dengan berat badan mereka,” kata Dicky Livinos Thabari.

Ia mengatakan, memiliki stigma ini berbahaya dan harus dipahami bahwa obesitas adalah penyakit yang hanya bisa disembuhkan dengan membatasi asupan makanan dan lebih banyak melakukan aktivitas fisik.

“Obesitas bukan hanya masalah estetika, tetapi juga masalah kesehatan yang serius. Orang gemuk lebih cenderung memiliki penyakit kronis lainnya,” kata Dickey.

Praktisi kesehatan menggunakan BMI (Body Mass Index (BMI)) sebagai metode skrining, dan diagnosis klinis obesitas didasarkan pada kelebihan lemak tubuh abnormal yang berbahaya bagi kesehatan.

“Bagi masyarakat Indonesia, IMT di level 25 termasuk dalam kategori overweight, dan IMT di atas 27 dinyatakan obesitas.

Kita juga bisa menggunakan lingkar pinggang untuk menilai risiko seseorang terkena penyakit akibat obesitas. “Ukuran pinggang lebih dari 80 cm untuk wanita dan lebih dari 90 cm untuk pria meningkatkan risiko penyakit akibat obesitas,” kata Dickey.

Untuk pencegahan dan pengendalian obesitas, diet memegang peranan penting. Diet yang dijalankan sebagai bagian dari upaya menurunkan berat badan biasanya berfokus pada pembatasan energi untuk menurunkan berat badan.

dr. Cindiawaty J. Pudjiadi, MARS, MS. Sp.GK mengatakan, mengendalikan berat badan tidak cukup dengan mengurangi asupan makanan dan memperbanyak aktivitas olahraga.

“Kita juga perlu memperhatikan apa yang kita makan, bukan hanya seberapa banyak yang kita makan.

Pengurangan kalori yang efektif bukan hanya tentang makan lebih sedikit dengan tujuan mengurangi asupan kalori sesedikit mungkin.”

Sementara itu, Sp.KO Anita Suriani menambahkan, aktivitas fisik pasti dapat mencegah kegemukan dan obesitas.

Namun, bentuk latihan tertentu mungkin memiliki efek yang lebih besar pada komposisi tubuh.

Yang dianjurkan adalah intensitas sedang dan sekitar 40 menit.

Novo Nordisk berkomitmen jangka panjang terhadap obesitas untuk meningkatkan kualitas hidup mereka yang mengalami obesitas dengan mempertimbangkan cara pandang dunia, mencegah dan menangani obesitas – dan dengan menjadikan obesitas sebagai prioritas kesehatan.

Salah satu fokus Novo Nordisk adalah membuat perbedaan di bidang obesitas di Indonesia dan dunia, melalui pendekatan komprehensif kami terhadap pengobatan obesitas.

Sebagai bagian dari program kampanye antiobesitas, Novo Nordisk Indonesia mengupdate TanyaGendis, program chat WhatsApp yang memberikan informasi seputar diabetes dan obesitas.

Gendis berarti “Pencegahan dan Pengendalian Diabetes dan Obesitas”. TanyaGendis dapat dihubungi melalui WhatsApp di 0812 8000 5858 dan memungkinkan masyarakat untuk melacak risiko diabetes dan status BMI seseorang terlebih dahulu. TanyaGendis merupakan aplikasi dari Nota Kesepahaman antara pemerintah (MoU G2G) antara Indonesia dan Denmark di bidang kerjasama kesehatan.

Laporan wartawan Eko Sutrianto

Jakarta –